Seorang Siswi TK Diperkosa Anak SD Bukti Kegagalan Sistem Sekuler

 Seorang Siswi TK Diperkosa Anak SD Bukti Kegagalan Sistem Sekuler


Oleh Siti Mukaromah 


Makin maraknya kejahatan seksual disekitar kita menjadi kekhawatiran setiap orang tua. Karena bisa saja terjadi kepada siapa saja dan dimana saja.


Dikutip dari detik.com. (21/1/2023), 9 fakta siswi TK diperkosa 3 bocah SD (Sekolah Dasar) di Mojokerto. 

Seorang siswi TK (Taman Kanak-kanak) di Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto diduga diperkosa 3 bocah laki-laki SD yang baru berusia 7 tahun.

Anak perempuaan berusia 6 tahun itu mengalami trauma karena sudah mengalami kejadian serupa.

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA. Nahar menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pemantauan penyidikan tentang latar belakang kasus itu. Ia ingatkan juga tentang sistem Peradilan Pidana Anak, mengingat pelaku masih dibawah 12 tahun.


Kasus kekerasan seksual ini harusnya menjadi tamparan keras bagi negara, menegaskan bahwa ini adalah malapetaka dahsyat yang menunjukkan kebobrokan dalam mengurus rakyatnya. Sebuah keprihatinan dan aib bagi suatu bangsa.

Serta menjadi tamparan bagi keluarga, masyarakat, institusi pendidikan terutama negara. Negara telah gagal mengurus rakyatnya diberbagai aspek. 


Pengasuhan orang tua  berkaitan dengan faktor perilaku anak. Bekal bimbingan calon pengantin pernikahan, faktanya kurikulum pendidikan ini hanya formalitas sekedar mendapatkan sertifikat atau surat nikah saja.


Ditengah derasnya arus kampanye kesetaraan gender pendidikan justru menjadikan hanya sebagai orientasi peserta didik sebagai tenaga kerja. Daripada menyiapkan perempuan sebagai calon ibu pencetak generasi yang bertakwa. Perempuan didorong untuk menjadi pekerja yang mandiri tidak hanya bergantung kepada suami. Sehingga kurikulum pendidikan makin menjauhkan agama dari kehidupan.


Nilai-nilai global identik dengan Barat yang didasarkan kepada liberalisme dan hak asasi manusia makin tertanam dalam benak peserta didik.  Gambaran pentingnya peran orang tua makin menjauh, menjadi hanya dunia saja yang dicari. Tanggung jawab dan kesiapan menjadi orang tua tidak terwujudkan.


Sulit dan sempitnya kehidupan dalam penerapan ekonomi Kapitalisme, memaksa ibu untuk ikut keluar rumah bekerja untuk menambah kebutuhan ekonomi keluarga. Keberadaan anak menjadi beban, menjadikan anak terabaikan. Akibatnya peran ibu tidak bisa optimal.

Maraknya fenomena hidup lajang, friend with benefit, childfree. Serta media sekuler yang jauh dari asas agama, begitu mudah diakses dan dijangkau setiap saat. Anak-anak dibawah umur pun menjadi korban pengaruh serangan digital ini. Diperparah keterikatan kondisi dengan sistem pendidikan yang membuat aturan agama makin longgar.


Menjadikan pemahaman yang salah, agama dianggap radikal. Menganjurkan berbusana menutup aurat dianggap intoleran, otonomi atas tubuh adalah hak perempuan. Terjadilah kerancuan menetapkan kebenaran salah, terpuji adalah tercela. Menjerumuskan anak pada perilaku yang rusak.

Negara abai mengawal pesatnya transformasi digital, termasuk kepada anak dibawah umur. Arah digital ketika hanya diarahkan kepada arah perekonomian untuk meraup keuntungan semata. Mengabaikan tayangan dan konten-konten jauh dari ramah anak bebas berkeliaran. Akibatnya anak mudah meniru tayangan yang tidak layak dikonsumsi, bahkan ketika anak belum memahami apa yang dilihatnya.


Inilah fakta penyebab utama kesalahan negara dalam mengurus rakyatnya yang dilandaskan kepada sekuler kapitalisme.


Pendidikan baik media disemua bidang memberikan dampak kepada kehidupan rakyat, termasuk pemikiran dan perilaku. 


Pemerkosaan yang dilakukan siswa SD terhadap siswi TK membuktikan tatanan kehidupan rusak dan merendahkan kemanusiaan.


Kesadaran penguasa kepada akhirat agar terwujudnya kesejahteraan rakyatnya berjalan sesuai kodratnya. Kejahatan seksual anak dibawah umur semacam ini tidak akan terjadi, apabila kehidupan berbangsa dan bernegara dilandasi dengan akidah Islam sebagai asas kehidupan. Menjadikan individu selalu terikat dengan aturan Allah. Sebagai benteng akidah pun menjadi panduan penguasa dalam memberikan kebijakan dan aturan.


Negara juga melakukan penjagaan umat dalam semua aspek, agar menjaga pemikiran menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kemungkaran. Semangat melakukan kebaikan mengembangkan perkembangan tekhnologi. Agar manusia lebih mudah mengakses dan meningkatkan peran sebagai seorang Khalifah dimuka bumi ini.


Wallahualam bissawab

Komentar